Think ● Solve ● Brave ● Go ● Fight ● Win

Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan

25 Mei 2016

UN CBT – Daily Logs


*Sebelumnya, post ini akan ditulis dari perspektif seorang siswa kelas XII IPA 3, dimana pelajarannya – tentunya – sebagian besar IPA. Mungkin bisa relevan dengan yang IPS.

Beberapa minggu yang lalu (tepatnya 4 April 2016), manusia yang berjenis “pelajar Indonesia” – termasuk kami – mau nggak mau harus menghadapi masalah besar yang bernama Ujian Nasional (UN). Sebenarnya nggak terlalu masalah kalau udah belajar, tapi… ah sudahlah.
Perlu kalian ketahui, UN ini berlangsung selama 9 hari – dengan 3 hari kosong, karena ‘cuma’ 6 pelajaran – ,yang awalnya dibayangkan akan menjadi hari-hari neraka dimana kami akan makan latihan soal setiap hari. Ternyata, ekspektasi tetaplah ekspektasi…
*Sedikit info, di hari pertama UN katanya akan ada kunjungan dari Menteri Agama dan Walikota Tangsel (sadis…), dimana kami dipersiapkan dan diwanti-wanti sebelumnya oleh Bu Penny (kepala madrasah, red.), agar membersihkan asrama sebelum beliau berdua datang. Kami pun membersihkan asrama dengan semangat, sambil masing-masing berdoa agar kamarnya nggak dikunjungi Pak Menteri dan Bu Walikota.

Seperti bahagia

Senyum putus asa
Overall, UN dibagi jadi 2 sesi, yaitu sesi 1 dan sesi 2 (iyalah), dimana masing-masing sesi akan ‘dihuni’ 3 kelas bergantian, biar semua merasakan kedua sesi. Saya sendiri mulai di sesi 1. Khusus hari pertama, anak-anak sesi 2 bakal ketemu Pak Menteri duluan. Oiya, di sesi ini kami memberikan persembahan berupa 1 set buku kumpulan cerpen “Etape” kepada Pak Menteri, yang diserahkan oleh M. Wifaqurrahman Nur Huda.


Ketauan Pak Menteri


Yak, lanjut aja ya.

Day 1 – Bahasa Indonesia

Pelajaran pertama, Bahasa Indonesia. Overall, subjek yang satu ini – seharusnya – nggak terlalu susah, hanya saja cukup banyak soal-soal yang dirasa ambigu dan menimbulkan banyak sekali penafsiran jawaban. Ditambah bacaan yang cukup memusingkan, menjadi paket soal pembuka yang sangat membuat down semangat. Dan benar saja, setelah sesi 1 dan 2 selesai, terjadi perdebatan seru antar kami semua mengenai soal-soal barusan. Contoh :

“Eh, nomor 1 jawabannya ******* bukan sih ?”
“Bukan, jawabannya *****”
“EH, SERIUSAN ?”
Suddenly temen yang lain bilang, “Iya ***, gw jawabannya juga itu.”
"Aaaarrrghhhhhhh !!!!” *banting alat tulis*

Stres bukan main, kami memutuskan menghentikan diskusi itu, meski masih banyak yang ngotot buat debat sama yang lain, contohnya *you-know-who*. Sebagian nekat belajar buat besoknya, sisanya memutuskan berlayar ke pulau kapuk.

Day 2 – Kimia

Pelajaran kali ini – untungnya – cukup mudah, nggak terlalu mengecoh pun bikin pusing. Terlihat dari teman-teman yang wajahnya bercahaya habis keluar dari kelas. Debat pun berlangsung lebih aman, dan yang ngotot jawabannya benar pun sedikit.

Day 3 – Matematika

Yap, pelajaran yang kami “tunggu-tunggu”. Cukup bikin deg-degan, karena saya punya target 100 di subjek ini (wuih…). Kami mengerjakan soal dengan sangat hati-hati sekali. Alhamdulillah, nggak sesulit yang dibayangkan. Sepertinya nggak ada masalah, dan nggak ada ‘bug’ yang berarti di soal kali ini. Sampai kami berkumpul di “arena debat”, kamar 106 F.

Terjadi debat sengit tentang soal ini. Jadi, intinya diberikan sebuah lahan dan gulungan kawat. Kawat itu bakal dipake buat bikin pagar. Nah, dengan panjang dan lebar lahan sekian, berapa keliling lahan jika luas lahan maksimum ? Sebenarnya soalnya gampang, cukup dikerjain pake turunan biasa. Masalah terjadi, gara-gara ilustrasi pagar di atas. Apakah pagarnya dianggap selapis kawat, atau 4 lapis? Kalo opsi jawabannya cuma ada salah satu dari jawaban pertanyaan di atas, nggak masalah. The problem is, ADA DUA-DUANYA.

*asumsikan keliling lahan 360, soalnya lupa jawabannya berapa -_-“
“Eh,eh, soal no. x jawabannya 360 kan?”
“Lah, 90 kali yang bener?”
“Lah, kagak lah, 360 bro yang bener,”
“Lu liat gambarnya kagak? Itu pagarnya 4 lapis bro…”
“Itu mah ilustrasi doang kali? Gw pernah ngerjain soal mirip itu pagarnya ya dianggep selapis doang…”
“Ya pembuat soalnya pingin ngecoh bro, yakin gw 90 yang bener”

     
Selain soal tadi, ada soal lagi yang jadi bahan gosipan. Jadi, kira-kira intinya ada 3 orang dan beberapa buah lampu (kalo gak salah) yang terdiri dari 2 lampu rusak dan sisanya yang bagus. Berapa peluang yang terjadi jika masing-masing mengambil lampu bergantian dan orang ketiga mendapat lampu yang rusak ? Lagi-lagi ini soal mudah (seharusnya). Tapi, ternyata ada ‘bug’ yang nggak terkira.
SEBAGIAN BESAR menganggap orang pertama dan kedua selalu mendapat lampu bagus, padahal ada kemungkinan yang lain. Yaitu orang pertama dapat lampu bagus dan orang kedua yang jelek, begitu pula sebaliknya. Daaaaaaannn debat yang kurang lebih sama dengan yang di atas terjadi lagi.
Hari ini pun ditutup dengan kelabakan ngapalin materi biologi.

Day 4 – Biologi

Menurut saya pribadi, ini pelajaran paling susah – kayaknya sebagian besar setuju – di UN. Yah, tau lah kenapa. Banyak soal-soal yang nge-bug, banyak banget yang ngecoh (atau emang gak ngerti, beda tipis). Banyak dari kami yang cukup stres, namun cukup lega karena besok libur. Yap, libur 3 hari setelah UN Biologi benar-benar kombinasi yang pas.

Day 5-7 – “Istirahat”

Dibandingkan 4 hari sebelumnya, 3 hari ini benar-benar “dioptimalkan” untuk istirahat. Yap, istirahat.




Terlihat sebagian besar orang lupa bahwa masih ada fisika dan bahasa Inggris. Tapi, sebenarnya saya yakin mereka juga pada lupa kalau sebenarnya ini UN. Dapat dilihat dari Ham****dan (bukan nama sebetulnya) yang terus-terusan teriak “Poliploidiiiiiii…!!!! Poliploidiiiii…!!! (ngajak main voli)” dan beberapa spesies manusia penyuka gawai berlayar 10 inci keatas yang tiap hari ngebet mau ke CSA.
By the way, hari ini juga dipakai sama grup-grup pendaki buat siap-siap ini-itu. Mereka terlihat asik sekali, sementara saya sendiri gabut karena nggak ikut keduanya.
Oh iya, ada kabar gembira untuk kita semua. Hasil Tohoku udah keluar dan mereka (Alvin, Adam, Ojan, Ijat) lolos ! Yak, selamat buat kalian berempat ! Sayangnya mereka belum juga traktiran hingga saat ini.

Day 8 – Fisika

UN mulai lagi yay! Anyway, pelajaran kali ini Alhamdulillah nggak begitu sulit, terbukti dari debat yang sedikit. Mungkin karena udah pada kepikiran liburan kali ya haha. Apalagi, begitu pulang ke asrama, sedikit yang ngebahas soal, bahkan yang belajar bahasa Inggris pun sedikit. Bisa dibilang, ini bagaikan hari terakhir UN. Atau memang hari terakhir UN?

Day 9 – Bahasa Inggris

Yap, pelajaran terakhir. Kalo mau jujur, malam sebelumnya banyak – banget – yang nggak belajar. Terlebih pada menganggap pelajaran kali ini gampang, makanya pada santai-santai, istirahat biar pada kuat mendaki gunung. Dan – Alhamdulillah – nggak begitu banyak kesulitan berarti, wajah teman-teman pun terlihat bahagia sekali saat mengerjakan soal.
Bel berbunyi, tanda UN telah benar-benar berakhir. Kami semua langsung ganti baju dan menuju GSG untuk makan bersama komite. Seakan mengerti kami lelah sekali setelah UN, di sana disediakan tempat mengambil es kopyor + nata de coco yang sangat enak dan jadi tempat terlaris – karena boleh ngambil berkali-kali – selama makan siang.
Sepulang dari GSG, Eistherawan langsung mengambil manuver 90 derajat ke kanan begitu singgah di depan gedung F. Dalam sekejap, puluhan tas mengalir tanpa putus menuju lobby. Tombol power ditekan, menandai akhir resmi dari UN CBT kami.


Some facts :

  1. Sempat terjadi server rusak di UN day 1, tepatnya di kelas SS sesi 2. Sedihnya, mereka harus selesai UN pas magrib.
  2. Buku “Etape” yang akan dibaca Pak Menteri duluan adalah “Surat untuk Gadis Bermata Indah”. Satu teater langsung heboh.
  3. Tiap pagi dikasih snack kotakan, yang isinya enak banget. Sorenya dikasih makanan lagi. Ditambah vitamin pula. Kami makmur dan sehat.
  4. Entah kenapa XII IPA 3 langsung heboh begitu disuruh ngisi angket hari terakhir. Begitu liat pertanyaannya bejibun, langsung down.
  5. Pada heboh pas ngeliat meja prasmanan. If you know what I mean.
Read More

24 Mei 2016

Scholastic 2016

                

27 Februari 2016
                Aku buru-buru mengenakan pakaian lengkap saat temanku memberi tahu bahwa namaku dipanggil dengan speaker asrama. Ini masih pukul enam pagi dan apa yang mereka inginkan, sih?
                “Waaa! Ayo buruan disuruh ke Gedung G!”
                “Iya bentar, Je! Gua turun nih...” jawabnya tak kalah lantang.
Kami membuat keributan pagi ini. Sebenarnya tidak sih, sebelumnya teman-teman satu asrama sudah dengan heboh memanggil-manggil namaku dan Najwa. Bagaimana tidak, yang menyuruhku keluar di pagi buta seperti ini adalah Fathi dan Fathul. Tak perlu ditanyakan alasannya. Ah, itu sudah masa lalu.
Aku dan Najwa yang masih dengan tampang bangun tidur akhirnya terpaksa keluar. Dan kalian tahu? Tidak ada siapa pun di depan Gedung G. Kami sadar kalau persiapan kami cukup lama. Tapi bukaknkah itu wajar? Kami kan, perempuan. Belum lagi, aku butuh kepastian dari banyak orang saat akan memutuskan aku akan keluar atau tidak. Harusnya mereka memaklumi itu!
Aku dan Najwa hanya bisa merutuki nasib sial ini. Sampai salah satu teman laki-laki kami keluar dari peradaban mereka, dan memberi tahu bahwa kami harus mencarikan dua buah topeng Vendetta. Aaarggh! Kenapa pagi ini aku begitu sial?
***
20 Februari 2016
“Je, ini rundown acaranya. Ada beberapa urutan yang berubah tapi belum sempet gua ubah. Ini, nih...” Wardah menjelaskan padaku segala yang berkaitan dengan jalannya acara. Aku hanya mengangguk mengerti.
Jujur, saat ini aku masih belum bisa percaya bahwa aku dipilih menjadi pembawa acara. Bukannya aku belum pernah, tapi waktu itu aku kan hanya menjadi MC LPJ yang teksnya sudah dibuatkan dan tugasku hanya membacanya. Lagi pula, waktu itu acaranya formal dan aku tak butuh banyak berimprofisasi – meski di acara itu pun aku tetap memalukan.
Tapi ini kan pentas seni! Walaupun ini adalah ujian praktik dari empat mata seni yang kami pelajari, tetap saja aku tak bisa bersikap kaku-formal seperti saat LPJ, kan? Aku tahu aku berebihan, karena secara teori, yang hadir nanti mayoritas adalah adik kelasku – di depan mereka, urat maluku sudah putus. Tapi tetap saja, namanya juga Zaynab. Berlebihan adalah salah satu karakterku – yang entah mengapa sangat sulit dihilangkan.
Aku sedang menekuri rundown yang tadi diberikan Wardah. Ia sendiri sudah sibuk dengan teman satu timnya yang memang bertugas mengatur acara agar berjalan lancar dan menarik. Saat ini kami – yang bertugas mengisi acara – sedang berada di Gedung Serba Guna untuk latihan berdasarkan kelompok-kelompok yang telah ditentukan. Rekan pembawa acaraku sendiri belum datang. Entahlah,  mungkin ia terlalu khusyuk membaca Al Quran di masjid.
Aku berusaha untuk tidak panik, mengingat kami sama sekali belum pernah bertemu untuk membahas tentang ini, sedangkan acara akan diadakan pekan depan. Aku tahu kalau dia – rekanku, lebih berpengalaman karena dia pernah menjadi pembawa acara di acara eksternal sekolah. Tapi harusnya dia bisa memahamiku, yang tak pernah melakukan hal ini sebelumnya! Ah, memang tak pantas mengharapkan kepekaan dari seorang laki-laki.
Untung aku tak butuh waktu yang sangat lama untuk menunggunya. Ia dengan santainya menghampiriku – itu pun setelah diarahkan oleh anak acara, dan tak terlihat merasa bersalah telah datang terlambat.
“Pik, lo udah dapet rundown belum?” aku memulai percakapan.
“Ha? Belum.” Jawabnya.
“Ghiyats belum ngasih?”
“Belum.”
Oh, baiklah. Aku – yang memang bertempramen cukup tinggi, mulanya ingin protes ke seseorang yang bernama Ghiyats itu. Tapi berhubung aku juga baru saja mendapatkan rundown, aku tidak jadi melakukannya. Lagipula, anak acara sudah terlalu sibuk untuk mengurusi kami.
Wardah yang melihat Taufik berdiri tak jauh dariku akhirnya menghampiri kami. Ia menjelaskan dengan detail kepada Taufik sebagaimana ia menjelaskannya padaku tadi. Aku hanya memberinya tatapan semangat, karena ia harus mengulangi hal yang sama dua kali.
Karena kelompok-kelompok lain sudah mulai berlatih, mau tidak mau aku juga harus menyesuaikan, bukan? Karena kami hanya berdua, Wardah akhirnya menyanggupi untuk menemani. Tapi tetap saja, ia memiliki kewajiban lain untuk berlatih bersama tim nasyidnya. Untuk mempermudah mobilisasi Wardah, akhirnya kami menyeret kursi ke dekat tim nasyid yang sedang berlatih.
Aku tidak mengenal dengan baik partnerku ini. Yang aku tahu, ia adalah orang alim yang sangat menjaga interaksi dengan perempuan – tahu kan, ghodul bashor dan sebagainya. Itu sih terserah dia. Yang aku harapkan saat ini adalah ia mengajariku bagaimana jadi pembawa acara semi-formal seperti yang pernah ia lakukan.
“Pik, lo kan udah pernah tuh jadi MC Sonlis. Kira-kira, kalimat pembukaannya gimana, ya?” tanyaku membuka percakapan.
“Dulu yang buatin teks semua si Sarah. Gua tinggal ngapalin.”
“Ooh...” aku mengangguk tak sadar. Tunggu, apa dia bilang? Apa itu artinya aku juga berkewajiban membuatnya?
“Pas masuk pertama kali kan standar tuh. Jalan bareng sambil salam...”
“Trus setelahnya? Gua tuh pengen kaya Sonlis gitu loh, Pik. Pembukaan yang saling berbalas gitu. Misalnya, gua bilang, ‘Welcome to the biggest’, trus lo bilang, ‘the bla bla bla’, nanti gua bilang lagi, ‘the apa...’ gitu misalnya...” ocehku sambil berkhayal.
“Yaya...gua ngerti. Dulu gua kaya gitu, tapi lagi-lagi yang buat semuanya tuh Sarah, Je.”
Aku hanya bisa mendesah. Nampaknya terlalu muluk kalau aku mengharapkan dia untuk membuatnya.
“Yaudah, kita bagi tugas. Gua buat pembukaan, trus lo buat penutupan. Gimana?”
“Oke.”
Bisa dibayangkan yang terjadi setelah itu? Kami bekerja dalam diam. Sesekali Wardah menghampiri dan bertanya apa yang sedang kami diskusikan. Tentu aku yang menjawab. Berkali-kali aku menghampiri Sarah dan bertanya apa yang harus kulakukan. Dia hanya memberiku semangat karena partnerku adalah Taufik. Aku sempat bertanya-tanya pada diriku sendiri kenapa aku meributkan hal yang sepele seperti ini. Kenapa sih, aku dilahirkan sebagai orang ribet?
Di sela-sela kesibukkanku –yang sepertinya berlebihan untuk dikatakan sibuk, aku memerhatikan kelompok-kelompok kecil lain yang berlatih dengan sungguh-sungguh. Aku tak meragukan mereka untuk tampil hebat di acara kami pekan depan. Pasalnya, mereka sudah mempersiapkannya dari jauh-jauh hari. Tidak sepertiku yang baru akan memulainya sekarang.
Mulanya aku ingin protes, apakah menjadi MC sebegitu mudahnya sehingga aku tidak perlu dilatih? Tapi aku berusaha memahami. Aku tidak boleh semanja itu untuk diladeni layaknya bocah kecil. Teman-teman sangat sibuk dengan urusannya masing-masing, maka aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri dan berusaha tampil tidak memalukan ketika acara nanti.

21 Februari 2016
“Meeh, bangun! Ayo katanya ada latihan flashmob.” kataku mengingatkan.
Muthi juga masih terlelap di pembaringannya. Kalau bukan karena Ummah sebagai instruktur flashmob, aku sudah sedari tadi meninggalkan mereka berdua. Butuh tiga sampai lima kali lagi aku mengoceh ala ibu kos sampai mereka benar-benar terjaga dan beranjak dari atas kasur.
Beberapa pekan terakhir, kami memang menjadwalkan Minggu pagi setelah kerja bakti dan sarapan untuk latihan flashmob. Dalam flashmob kali ini, kami akan menari bersama diiringi lagu Korea – karena instruktur kami adalah K-Popers. Rencananya, flashmob akan dijadikan sebagai penutup acara kami Sabtu yang akan datang.
Sudah pasti tidak mudah melatih pemuda-pemudi kaku yang kerjaannya hanya belajar seperti kami untuk bisa kompak dalam melakukan gerakan flashmob. Meski katanya, gerakan yang dipilihkan sudah tergolong mudah, tetap saja. Banyak di antara kami yang masih mengeluh soal gerakan ini. Tempo yang cepat juga menjadi salah satu kendala. Belum lagi, banyak yang ‘sok’ sibuk dan tidak datang saat latihan. Ah, manusia memang tak sempurna.
“Eh, menurut kalian, itu gerakannya susah ngga sih?” tanya Ummah padaku dan Muthi di sebuah kesempatan.
“Emm,, sebenernya engga sih, Meh. Cuman, pas udah dikasih lagu dan ternyata temponya cepet, kita jadi kaget trus kagok.” jawabku.
“Tapi beneran deh, kita udah milihin gerakan-gerakan yang enak dan udah gampang banget!”
“Iya, iya... Mungkin butuh latihan lebih banyak lagi kali, Meh.” Kata Muthi mengakhiri pembicaraan.



27 Februari 2016
Aku dan Najwa segera kembali ke asrama untuk mencari topeng yang diminta. Kabar baiknya, kami tak harus berkeliling asrama untuk mendapatkan topeng-topeng tersebut. Ternyata tak sepenuhnya pagi ini menyebalkan, batinku sambil tersenyum.
“Eh, itu topengnya kasih ke Zidna!” kata Fathul dari teras Gedung F. Zidna yang sedang membawa boks-boks karya menghampiriku untuk mengambil topeng yang sedang kupegang.
“Makasih...” katanya.
“Yap! Sama-sama.” jawabku kelewat riang. Saat aku hendak berbalik, aku melihat rekan MC-ku berjalan dari arah poliklinik menuju asrama. Ia mempercepat jalannya dan aku pun mengerti bahwa ia akan mengatakan sesuatu padaku.
“Je!” panggilnya. Benar, kan?
“Ya?” jawabku berusaha untuk tenang. Pasalnya aku sangat gugup karena hari itu aku harus tampil sebaik mungkin.
“Kita jam tujuh kurang lima belas aja ya udah di GSG.” Ia terlihat begitu tenang.
“Oke.” Jam berapa sekarang? Aku reflek melirik pergelangan tangan. Dan yang kulihat hanyalah sebentuk gelang karet hitam bertuliskan “KEEP CALM AND BE A DOCTOR” bututku yang tak pernah kulepas entah sejak kapan. Seharusnya aku tidak melakukan reflek aneh itu mengingat aku tak biasa mengenakan jam tangan.
Aku membalikkan badan dan segera saja melesat memasuki asrama. Aku harus siap dalam setengah jam.

26 Februari 2016
Aku sudah selesai melakukan ujian praktik pada mata pelajaran Al Quran dan Hadits. Seharusnya aku masih ada ujian olah raga, tapi aku sama sekali tak mengingatnya. Aku bergegas menuju laboratorium siswa tempat kami boleh menggunakan komputer dengan bebas. Dengan amatir, aku membuat kertas MC – berupa kertas berlogo yang biasa dibawa para pembawa acara, seadanya – sebisaku.
Setelah ku-convert ke tipe .pdf dan kusalin ke dalam flashdisk-ku, aku langsung menuju Kopinma untuk mencetaknya. Sial memang nasibku karena file tersebut tak bisa dibuka. Berhubung laboratorium tadi sedang digunakan oleh guruku, akhirnya aku menumpang pada temanku yang membawa laptop untuk membuatnya ulang.
Aku sedang melangkah tergesa di samping gedung administrasi saat tak sengaja aku melihat sekumpulan siswa kelas dua belas menenakan pakaian olah raga. Apa ada sesuatu yang terlupakan?
“Eh, siapa tuh? Jenab bukan?” seru salah seorang di antara mereka. Sontak aku menoleh dan menyadari bahwa aku lupa sekarang waktunya ujian praktik.
“Wah, Bu Jen kacau nih, belum siap-siap!” Entah siapa lagi itu yang menyahut. Aku tak berani menoleh lagi. Mengapa aku bisa seceroboh ini?
27 Februari 2016
“Jeeenaaab!!!” suara Wardah kian mengeras karena sekarang ia sudah berdiri di dekatku dan menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku kembali berkonsentrasi dengan barang-barang yang akan kubawa. Pulpen, notes, kertas rundown, kertas MC, handsanitizer, tisu, pelembab...
“Perlu pake make up ngga, Je?” tanyanya, “eh, make up saman mana ya?” lanjutnya tanpa menunggu jawabanku.
“Udah, Jenab ngga usah diapa-apain lagi. Pake bedak aja, Je biar nggak pucat.” Sahut Muthi dari dalam kamar.
“Yap! Ngga usah deh, gua ngga betah, War.” Kataku dan Wardah hanya mengangguk setuju. 
“Zaii! Mau pake BB Cream nggak? Biar tahan lama.” Tanya Ummah menawarkan.
“Boleh, deh.”
Aku menyambar sebuah tube kecil yang ada di meja Ummah dan kini berdiri di depan kaca. Sekarang sudah pukul 06.40. Itu artinya waktuku tinggal lima menit lagi. Aku segera merapikan barang-barangku dan memasukkan wedges ke sebuah tas jinjing kecil. Aku sudah pasti takkan berani mengenakan sepatu ini dari asrama ke Gedung Serba Guna. Kemungkinanku jatuh saat berjalan di atas pavin block lebih besar dibanding dengan di atas ubin, kan?
Sekali lagi aku menatap cermin dan merasa aneh. Sepertinya ini kali pertamaku mengenakan kerudung bermotif.

26 Februari 2016
Siang ini semua orang terlihat sangat sibuk. Ada yang bolak-balik seperti setrika dari asrama ke Gedung Serba Guna, ada yang mendedikasikan diri tinggal di living room untuk membuat dekorasi yang belum selesai, lebih banyak lagi yang sibuk di Gedung Serba Guna dan menghias ruangan besar itu sedemikian rupa.
Tetesan cat di mana-mana. Teriakkan teman yang mencari tiner juga bersahutan. Sekumpulan perempuan yang memilin benang dengan balon juga terlihat mengasyikkan. Belum lagi abang-abang sound system yang ‘cak-cek’ sana-sini. Cowok-cowok bernyali besar bahu-membahu membuat sepetak dark room. Ada banyak pula yang berkumpul di depan panggung untuk menempelkan bulatan-bulatan berwarna merah, pink, dan hijau.
Aku sadar. Ini lah kesempatan terakhir kami untuk melakukan kesibukan seperti ini, bersama-sama. Tahun lalu, kami bahkan jenuh melakukan ini semua. Tapi sekarang, bolehkah aku meminta agar waktu untuk bergulir dengan perlahan?

27 Februari 2016
Aku berjalan menggunakan sandal karetku sambil menjinjing gaun kepanjangan yang sedang kukenakan. Untung saja adik kelas sudah selesai apel pagi dan sedang berkumpul di masjid. Jadi aku tidak menjadi pusat perhatian – meski aku tak yakin akan.
Aku sudah sampai di Gedung Serba Guna dan aku yakin jam sudah menunjukkan pukul 06.45 lebih. Tada! Tak ada sosok Taufik di sepenjuru ruangan. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku tak ingin mengulang teks MC-ku sendirian. Cukup sekali lagi aku mengulangnya dan harus bersama dengan si rekan. Tapi sekali lagi, ia tak terlihat di mana pun. Saat aku bertanya ke salah satu teman laki-lakiku, ia mengatakan kalau Taufik sedang bersiap-siap. Huh, bahkan aku yang perempuan saja bisa lebih cepat! Dia tak mungkin merias wajahnya dulu, kan?
Melihat temanku yang dengan rajin menyapu tangga di depan pintu masuk, aku pun membantunya sebisaku. Yah, hitung-hitung menambah pahala meski badanku takkan sesagar sebelumnya. Tapi tenang, aku tidak bau kok!
“Sori-sori, gua baru dateng!”
Aku hanya memberinya tatapan ‘tak-tahu-kah-kau-berapa-lama-aku-menunggu?’ yang aku yakin tak mungkin ia tangkap maknanya. Aku permisi sebentar untuk mengganti sandalku menjadi sandal lain dengan selop tujuh senti. Padahal, sama-sama sandal, yah.
“Yaudah, yuk langsung latihan aja. Di mana ya kira-kira?”
Aku mulanya mengusulkan untuk latihan di depan GSG, tapi nampaknya suasana sudah mulai ramai dan tidak memungkinkan untuk latihan. Sepertinya Taufik sependapat denganku dan akhirnya kami memutuskan untuk latihan di belakang gedung saja. Untung ada Pak Kris yang sedang mencuci motor, jadi aku tak perlu khawatir berduaan dengan orang ini.
Saat itu lah, kepercayaan diri yang sudah kubangun selama seminggu seakan retak tiba-tiba. Tanganku berkeringat dingin dan teks-teks yang telah kuhafal seakan menguap dari kepalaku. Kutarik napas dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan. Ini cukup membantu, meski tetap saja kegelisahan itu terngiang di benakku.

26 Februari 2016
Malam ini tentu saja diadakan gladi bersih sebagai bentuk ikhtiar terakhir kami sebelum hari esok. Malam ini, semua orang bekerja keras. Seksi konsumsi sudah siap menyeduhkan berbagai minuman hangat, semua band yang akan tampil juga sudah siap bila dipanggil namanya. Narator sudah mantap dengan teksnya, seksi dekorasi bahu-membahu melengkapi apa yang kurang. Sekali lagi, pemandangan ini entah kapan dapat terulang kembali.
Aku duduk di tempat duduk penonton dan menerka-nerka improfisasi apa yang bisa kulakukan apabila terjadi sesuatu yang tak terduga, juga mengumpulkan apa-apa yang dapat kudiskusikan dengan Taufik malam ini. Aku teringat sesuatu. Kertas MC! Ah, ya. Aku harus memberikannya kepada Taufik sekarang. Aku pun menyapukan pandanganku ke seluruh ruangan. Taufik sedang membantu menempelkan foto di Pojok Fotografi saat aku memanggilnya.
“Nih!” kataku sambil menyerahkan kertas itu. “Gua buat sendiri, loh...” pamerku.
“Apaan nih?” tatapnya heran, lalu mulutnya membentu huruf ‘O’. “Kok kecil banget?”
Deg. Iya kah? Apa aku salah ukuran?
“Ah terserahlah. Adanya itu. Ngga mungkin kan kita ganti? Ngga ada waktu.” Ujarku sengit.
“Iya, iya... daripada nggak ada sama sekali.” Katanya mengalah. Nah, gitu dong dari tadi...
Pukul 23.00 dan aku belum beranjak dari GSG. Sebenarnya sudah tak ada lagi yang harus kulakukan di sini. Awalnya aku berniat untuk tidur cepat agar besok tak ada kantung mata yang terukir di sekeliling mataku. Tapi entah mengapa melihat teman-teman yang berlatih di atas panggung membuatku enggan meninggalkan ruangan ini. Guru asramaku juga sudah berkali-kali mengimbau para akhwat agar segera kembali ke asrama. Tanggung.
***
27 Februari 2016
Para dancer sudah siap di posisi mereka masing-masing. Segera saja musik dinyalakan dan mereka beraksi menarik penonton untuk mendekat. Ini pertanda bahwa tak lama lagi giliranku untuk tampil. Aku menegaskan pada diriku bahwa tak ada lagi waktu untuk mempertanyakan apakah aku bisa memberikan yang terbaik. Yang harus kulakukan adalah berusaha semaksimal mungkin.
Video teaser sudah hampir selesai ditayangkan. Kugenggam erat mic di tanganku. Kumantapkan pijakan kakiku. Kutarik sudut-sudut bibirku sejauh mungkin. Ini lah, saatnya keraguan itu kukubur dalam-dalam.
***
Meski dentuman musik sering membuatku tak nyaman karena jantungku seakan mau copot, namun kali ini aku berharap agar ia tak pernah berhenti.
Aku memang tak memiliki suara emas, namun aku tetap bangga karena teman-temanku memilikinya.
Aku tak bisa membuat pop up wajah BJ Habibie ataupun desain kalender yang keren, tapi aku punya sahabat yang bisa diandalkan.
Tanganku tak seberharga Leonardo Da Vinci namun aku memiliki tangan-tangan lain yang lebih berharga dibanding tangannya.
Hari itu, adalah hari yang tak terlupakan. Hari di mana kami menangis bahagia. Hari di saat kami dengan bangga memupuk cita dalam hati kami untuk terus berkarya demi negeri ini, mewujudkan impian sang pionir pembentuk telaga ilmu kami ini. Hari di mana kami dengan lantang melantunkan lagu pantang menyerah. Hari di mana kami akan selalu percaya, bahwa akan ada hari esok yang lebih indah.
Hari ini memang bukan yang terakhir, tapi manisnya hari ini akan menjadi satu-satunya.
Scholastic 2016.



Zaynab Abdul Wahid



Read More

21 Mei 2016

Eisthera's Graduation Day


Terhitung beberapa detik, menit dan jam. Seratus empat belas pejuang secara resmi telah berhasil melewati perangnya. Melangkah lebih maju untuk menggapai sebuah pencapaian besar di hidupnya. Tiga tahun terlewati bak menaiki kereta tercepat di dunia. Tidak terasa dan berlalu begitu saja. Bermula dari lagak polos hingga menyebalkan tapi inilah yang membuat mereka tak terlupakan. Sampailah pada hari ini, disaat ketika seluruh Kesenangan, kesedihan dan kebahagiaan yang menyelimuti. Wisuda
Baru saja beberapa saat yang lalu kita Eisthera Gritanefic resmi lulus dari penjara suci yang telah menempa kita selama tiga tahun. Hari ini adalah hari yang akan selalu teringat dalam pikiran kita, seratus empat belas siswa yang awalnya biasa-biasa saja tapi ketika berkumpul bersama menjadi sekumpulan orang-orang aneh yang menyebalkan tapi juga asik .
               
Teringat perkataan Miss Yuna waktu kelas XI, “Kami menyiapkan kalian bukan cuman buat jadi sarjana tapi sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berharga”’ sebenernya Miss Yuna mengucapkannya dalam bahasa inggris tapi lupa saat itu bagaiman kalimatnya tapi intinya itu. Sadar gak sih? Betapa sebenarnya kita itu dididik untuk sebuah tujuan yang luar biasa seperti apa yang dulu dicita-citakan oleh Pak Habibie.Rupanya setelah tiga tahun akhirnya keluar juga hasilnya tepat tanggal 21 Mei 2016, ya kita di wisuda setelah melalui banyaknya proses yang melelahkan. Tapi apa memang wisuda ini akan menjadi tonggak sentral dimulainya perjuangan kita? Apakah wisuda ini sebagai pintu masuk sebuah perjalanan yang lebih menyulitkan atau tiket bebas dari sebuah kekangan instansi pendidikan?
Mari coba kita melihat kembali percobaan Kucing Schrodinger, menurut Schrodinger terhadap percobaan ini “Kucing memiliki probabilitas yang sama besar untuk hidup dan mati, sehingga tercipta lah sebuah skenario ‘mungkinkah kucing mati sekaligus hidup di waktu bersamaan?’”, pernyataan ini sejalan dengan perasaan kita ketika wisuda senang sekaligus sedih disaat bersamaan, dari beberapa orang yang sudah ditanya, tidak ada diantara mereka yang mau memilih salah satu diantaranya. Paradoks.
                Senang. Siapa yang tidak senang di wisuda sih? Seumur-umur belum pernah ada acara wisuda tanpa hiruk pikuk tawa dan canda dari para wisudawan. Wisuda adalah salah satu hari paling bahagia bagi setiap orang yang pernah merasakan pendidikan. Realisasi atas puncak pencapaian dari proses belajar mungkin adalah wisuda, akan percuma perayaan kelulusan dengan mencorat-coret baju, pawai keliling kota, sampai permainan kembang api jika tidak ada penyerahan simbolis dari sekolah kepada kita sebagai suatu bentuk penegasan kepada khalayak umum “Iniloh siswa-siswa kami yang sangat kami banggakan, nantikanlah kiprah mereka di masyarakat.” Di Insan Cendekia sendiri wisuda adalah hal yang paling diinginkan oleh setiap siswanya tidak terkecuali kita, Eisthera Gritanefic. Perjuangan melelahkan selama tiga tahun terbayar lunas hanya dengan prosesi wisuda yang berlangsung kurang lebih empat jam. Tidak ada satu pun dari kita yang mau melewatkan prosesi berbahagia ini.
                Kita senang, kita gembira, dan kita juga bangga akhirnya berhasil menjadi alumni dari salah satu sekolah terbaik di Indonesia. Seorang wali murid pernah berkata “Masuk ke IC aja tuh udah hebat, apalagi kalau bisa wisuda juga dari IC”. Mungkin selama di IC kita merasa jenuh, gak kuat, pengen seperti teman-teman lain yang sekolah diluar, yang gak perlu tinggal di asrama, yang bisa bebas pergi-pergi, bebas jalan-jalan, yang nilainya akan tetap bagus sekalipun kadang belajar seadanya.Bandingkan dengan kita, udah diwajibkan tinggal di asrama yang penuh dengan aturan, harus bisa mengurus diri sendiri, harus belajar dengan benar kalau tidak mau remed bahkan terkadang sekalipun sudah luar biasa belajarnya masih juga remed. Tekanan pelajaran, home sick, rasa enek gara-gara pas sampai di asrama tidak bisa langsung istirahat karena kamar yang berantakan atau hal-hal lain yang membosankan. Tapi layaknya soundtrack laskar pelangi yang dinyanyiin Sherina, kunci kita bahagia selama di IC cuman satu kebersamaan dengan teman-teman Eisthera yang layaknya keluarga sendiri. Namun justru muncul pertanyaan apakah kita sudah pantas disebut sebuah keluarga kalau kita saja masih suka menggunjingkan satu sama lain, menggolok-olok, bahkan sampai mengucilkan mereka. Tapi bukankah justru disana kita nemuin kekeluargaannya? Perasaan memaafkan yang timbul tanpa perlu dipaksa-paksa, perasaan iba terhadap satu sama lain, perasaan yang saling terkait bahkan tanpa berkata-kata.
Selama tiga tahun sadar gak sadar sebenarnya kita sudah membentuk sebuah keluarga besar, ya selain antara kita sendiri tapi, juga menghubungkan orang tua-orang tua kita, alhasil bukan kita aja yang terciprat kebaikan teman-teman kita namun terlebih lagi, diantara orang tua-orang tua kita juga bisa saling berbagi satu sama lain. Jadi memang gak salah kalau kita itu disebut sebuah keluarga. Dalam ikatan kekeluargaan ini pun kita saling menjaga satu sama lain, saling mebantu satu sama lain serta mengajak dalam kebaikan dan saling mengingatkan akan hal-hal yang kurang baik. Mungkin pernah terpikir pola tingkah laku kita di IC itu hanya akan kita lakukan di IC saja, di lingkungan luar ya kita beda lagi alias sebenernya kita di IC hanya memakai kedok agar terlihat sama dengan yang lain. Tapi coba balik pertanyaannya, bukankah sebenernya tingkah kita yang diluar IC yang merupakan kedok kita? Bukankah kita diluar berusaha buat bertingkah sesuai dengan pola pergaulan teman-teman kita diluar sana? Tidak kah kita justru merasa lebih canggung ketika bergaul dengan mereka? Justru di IC-lah kita tidak memkirkan hal-hal rumit seperti itu, hanya mengikuti pola aliran pergaulan yang memang kita terima tanpa perlu berberat hati. Tidak kah kita merasa nyaman ketika kita bergaul dengan sahabat  kita di Eisthera? Bukan kah mereka sudah menjadi sebaik-baiknya sahabat yang kita miliki? Mungkin beberapa dari kita masih sulit buat move on dari sahabat-sahabat masa SMPnya, tapi memang pada dasarnya kenangan bersama Eisthera tidak bisa memakaa masuk ke dalam kenangan masa lain yang mungkin juga indah, namun kenangan kita bersama Eisthera akan tetap terpatri secara indah dalam sudut-sudut ingatan kita, sudut-sudut yang tidak pernah dihiasi tangan jaring laba-laba karena begitu indahnya sudut kenangan tersebut .
Selain sahabat seperjuangan seringkali kita terlupa akan orang-orang hebat yang telah membina kita, seringkali kita terlupa akan jasa dari guru-guru kita selama ini. Mungkin kenangan akan teman-teman kita terlalu banyak memenuhi memori kenangan di IC sampai-sampai jasa-jasa serta kenangan-kenangan luar biasa dengan guru seringkali kita terlupa atau justru sengaja untuk dilupakan. Sadarkah kita betapa sebenarnya kita sudah dididik oleh para guru nomor satu dalam bidangnya masing-masing, bukan hanya dalam bidang akademik namun dalamnya moral yang ditanamkan menjadi sebuah nilai yang seharusnya akan sangat sulit untuk dilupakan. Mereka, guru-guru kita adalah muara peraduan terakhir kita apabila aliran masalah yang kita alami tidak dapat diselesaikan sendiri, oleh bantuan teman, dan terlalu jauh untuk mengadu kepada orang tua. Guru-gurulah tempat kita merajuk, bercerita, dan meminta pendapat akan masalah yang kita alami. Bukan hanya satu dua masalah, bukan juga dari satu dua siswa, guru-guru terhebat yang pernah kita miliki telah menampung lebih dari seribu masalah siswanya dari seribu siswa yang berbeda. Guru-guru kita selalu merasa tersanjung masih diberi kesempatan untuk menjadi tumpuan kita menuju impian kita, Pak Away bahkan mengumpamakan seperti anak tangga yang dengan penuh ketulusan serta kesabaran menuntun kita untuk mencapai ke puncak menara. Wisuda memang waktu terakhir kita dengan teman-teman seperjuangan tapi bukan kah wisuda juga menjadi saat-saat terakhir kita untuk duduk sebagai penuntut ilmu dari guru-guru kita yang hebat? Memang pepatah pernah menyebutkan boleh ada mantan kekasih dan mantan sahabat, namun tidak akan pernah ada yang namanya mantan guru  maka ingatlah selalu jasa guru-guru kita, orang-orang luar biasa yang dari mereka lah lahir para penerus bangsa.
                Rasa Bangga dan Bahagia tentunya turut andil dalam momen hari ini. Kita merasa bangga berhasil membahagiakan kedua orang tua kita, percayalah sekalipun kita menggangap wisuda hari ini hanya satu dari jutaan sekuel hidup kita namun dalam benak orang tua kita yang walaupun sudah berkali-kali melihat wisuda anak-anaknya mereka tetap akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Andaikata hari ini kita belum menangis karena berpisah dengan teman-teman seperjuangan maka menangislah karena kedua orang tua kita yang juga merasakan sulitnya perjuangan kita selama tiga tahun. Menagislah karena membayangkan kerasnya dan tulusnya doa mereka untuk kesuksesan kita selama di Insan Cendekia, menangislah karena ketika kita bercanda, di setiap malam ada doa-doa yang tak pernah putus, ada perasaan yang sangat dalam yang terpendam dalam hati mereka yang mungkin sampai ajal menjemput pun tidak akan bisa mereka ucapkan melalui kata-kata, karena perasaan cinta yang tulus tidak butuh banyak berkata indah namun yang dibutuhkan hanyalah perbuatan dengan niat tulus. Janganlah dilupa untuk mengucapkan kata yang walau sederhana namun penuh arti bagi mereka, “Terima Kasih.”
                Namun dibalik segudang rasa indah hari ini, tak terduga namun harus siap diterima, sebuah kata yang selalu datang setelah pertemuan, ya perpisahan. Wisuda ibaratnya sebuah pintu keluar dari sebuah ruangan VIP yang digunakan untuk melihat pertunjukkan dimana didalamnya dirancang fasilitas seideal yang hanya akan dihuni oleh oran-orang pilihan yang memiliki idealisme yang sama, namun ketika pertunjukkan berakhir para penghuninya harus meninggalkan ruangan tersebut menuju tempat berikutnya dengan kondisi yang jelas sangat berbeda. Dari wisuda inilah kita terpisah, tidak lagi melangkah beriringan. Kenangan kita setelah hari ini pun tidak lagi akan saling terkait, tidak lagi menjadi kenangan sebuah angkatan yang utuh. Kita akan menempuh perjalanan selanjutnya dengan cerita yang berbeda, bersama sahabat-sahabat yang baru, walau mungkin tetap akan berjumpa dengan teman-teman Eisthera namun tetap saja semua tidak akan pernah sama lagi ketika kita terpisah, layaknya puzzle yang tak utuh bila satu kepingannya hilang, akan tetapi, walaupun setelah wisuda ini kita akan jarang bertemu, tapi kita sudah berhasil bermetamorfosis menjadi sebuah konsepsi baru yang terikat lebih kuat dari sebelumnya, kekuatan yang datang dari indahnya kenangan bersama selama tiga tahun. Setelah ini memang tidak akan lagi ada makan bersama, tidak ada lagi teriakan-teriakan yang menghiasi asrama-asrama kita, tidak ada lagi diskusi-diskusi ilmiah bersama, tidak ada lagi main voli bersama, dan mengobrol gajelas bersama.  Namun, satu hal yang jelas akan tetap ada adalah ikatan kita sebagai saudara, dan melalui ikatan ini kita akan terus saling percaya tanpa mengenal batas waktu. Karena dari semua yang telah kita jalani satu-satunya yang fana adalah waktu.


Yang fana adalah waktu. Kita abadi :
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
( Sapardi Djoko Damono )



Selamat wisuda kawan, selamat berjuang menjadi orang hebat dan sukses dunia akhirat. Jangan seperti kapal yang ditelan tsunami, yang pergi dan tak pernah kembali. Berbaliklah dan sapa kembali dengan ramah. Wahai sahabat, ingatlah hari ini.
MAN Insan Cendekia Serpong, 21 Mei 2016

Eisthera’s graduation day
Read More

22 Juni 2015

Ekspedisi Gunung Bongkok


Pagi itu, dalam rangka menyambut hari libur Ujian Nasional, 12 siswa pilihan memulai perjalanan menuju Purwakarta, destinasinya adalah Gunung Bongkok, sebuah gunung batu dengan tinggi 900 meter-an. Perjalanan direncanakan ditempuh dengan kereta lokal Jakarta-Purwakarta.

Kurang lebih pukul 10 WIB, rombongan bersama2 sudah berada di JaKot. Kami pun rehat sejenak, banyak yang dilakukan disini sembari menunggu keberangkatan kereta yang di karcis ditulis pukul 13.00.

Keliatan elit banget kan? Padahal aslinya 5 orang iuran cuman buat beli secangkir kopi, tapi biarlah, sekali-kali ngrasain jadi orang elit. Sebenernya pemulainya itu si Fizhu dan Abda Joni. Gara-gara mereka, banyak orang jadi terjerumus dalam kesenangan yang sementara. Kutipan dari seorang guru pengajar di IC juga dilantunkan untuk tipu muslihatnya, “Kalian sekali-kali harus merasakan jadi orang kaya, beli makanan mahal” walhasil ya seperti ini...

Ba’da sholat jum’at, alhamdulillah, kereta berangkat dengan selamat dan lancar. Relnya sepi, begitu juga dengan isi gerbong dalemnya. Jadinya rombongan juga leluasa bergerak ria kemari kesana. Liat aja nih...

Tapi sebenernya juga gak kosong-kosong amat sih, di gerbong kita sebenernya ada satu penunggang kereta yang lain, keliatannya dia tersiksa karena ulah Hafidz cs dan kawan-kawannya.
Read More